Ajang Kampret Ngomyang

Melalui ruang maya yang didapatken secara boleh pinjam pun juga terbatas ini selain menginformasikan tentang Wayang Kampung Sebelah, sekaligus sebagai ajang "ngomyang" bagi Kampret tentang apa saja dan sekenanya. Jadi ya harap dimaklumken ya, mas bro... Matur sembah nuwun awit karawuhanipun tuwin kawigatosanipun. Nuwun.

Selasa, 26 Maret 2013

Ki Jlitheng Suparman










Dalang kelahiran tahun 1966 ini belajar mendalang wayang kulit purwa kepada kakek dan pamannya di Ngadirojo, Wonogiri, sejak kelas 5 SD. Prestasinya mulai tampak saat menyabet juara II lomba dalang remaja se-Kabupaten Wonogiri di tahun 1979. Dalam mengembangkan bakatnya ia menempuh jalur pendidikan formal di Jurusan Seni Pedalangan SMKI Negeri Surakarta, lulus tahun 1986. Kemudian meneruskan jenjang pendidikannya di Jurusan Sastra Jawa Fakultas Sastra UNS Surakarta dan berhasil menyandang gelar Sarjana Sastra di tahun 1995. Di tahun yang sama saat dia diwisuda sarjana, dalang beristrikan teman sebangku kuliah bernama Sukamti itu berhasil meraih prestasi masuk Sepuluh Besar Dalang Unggulan pada Festival Greget Dalang yang diikuti oleh 50 dalang se-Indonesia. Kiprah dalang yang lahir di kota Solo ini tidak hanya berhenti di panggung pertunjukan. Menulis adalah salah satu kegemarannya. Tidak sedikit buah pena berbentuk cerpen, cerita wayang, geguritan dan artikel seni-budaya yang dimuat di berbagai mass media cetak. Selain itu, tidak sedikit pula komunitas masyarakat maupun kampus-kampus yang mengundangnya sebagai pembicara diskusi seni dan budaya.
Menurutnya, dalang bukan sebatas penghibur, lebih dari itu ia menempati posisi strategis sebagai agen pencerahan bagi masyarakat gayut dengan kompleksitas problematika kekinian. Melengkapi wawasan sosial-politiknya sekaligus terdorong oleh keinginan ambil bagian dalam menggelisahkan problematika bangsa-negara, sejak medio tahun 2009 ia bergabung dengan komunitas Pergerakan Kebangsaan. 
Kegelisahan terhadap kelambanan transformasi seni pertunjukan Wayang Kulit Purwa yang memperlebar kesenjangan komunikasi dengan publik, terutama generasi muda, maka di tahun 2001 bersama sekelompok seniman kota Solo membidani lahirnya genre seni pertunjukan wayang kulit baru berlabel Wayang Kampung Sebelah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar