Ajang Kampret Ngomyang

Melalui ruang maya yang didapatken secara boleh pinjam pun juga terbatas ini selain menginformasikan tentang Wayang Kampung Sebelah, sekaligus sebagai ajang "ngomyang" bagi Kampret tentang apa saja dan sekenanya. Jadi ya harap dimaklumken ya, mas bro... Matur sembah nuwun awit karawuhanipun tuwin kawigatosanipun. Nuwun.

Sabtu, 22 Juni 2013

TERJEBAK PERANG MODERN






Oleh: Ki Jlitheng Suparman

Rakyat menggonggong, kenaikan harga BBM berlalu. Keputusan pemerintah yang membuat rakyat bawah dipastikan terdera tiga pukulan telak sekaligus: menanggung dampak beban kenaikan harga-harga kebutuhan hidup; di saat yang sama harus menghadapi kebutuhan tahun ajaran baru; dan menghadapi beban kebutuhah datangnya lebaran. Jelas daya ekonomi rakyat akan ngos-ngosan mengejar beban biaya kebutuhan yang meningkat berkali-kali lipat.
“Mengapa pemimpin kita tidak memiliki kepekaan terhadap penderitaan rakyat, wong cilik seperti kita, Pret?” keluh Lik Karyo dengan nada lirih nan pasrah.
“Ini bukan masalah peka atau tidak peka, Lik. Pemimpin kita, bangsa dan negara ini, telah terperangkap dalam skenario perang modern,” tanggap Kampret.
“Lho! Apa hubungannya kenaikan harga BBM dengan perang modern?”

Kamis, 13 Juni 2013

"MAWAS DIRI MENAKAR BERANI"

Kerangka cerita anyar Wayang Kampung Sebelah yang segera beredar

Disusun oleh: Ki Jlitheng Suparman





Babak Pemilu
Eyang Sidik Wacono memimpin penghitungan suara pilkades. Mendadak papan tulis untuk mencatat penghitungan suara hilang. Parjo selaku kepala keamanan ditanya tidak tahu. Begitu pun Sodrun ketika ditanya malah salah persepsi merasa dituding sebagai biang hilangnya papan tulis. Usut punya usut, papan tulis itu ternyata disimpan kembali oleh Suto Coro sebagai kepala rumah tangga kelurahan. Ia tidak merasa bersalah menyimpan kembali papan tulis itu karena panitia menggunakan peralatan kantor kelurahan tanpa seijin dia. Terjadi perdebatan sengit antara Suto Coro dan Mbah Sidik yang berakhir dengan kesanggupan Suto Coro meminjamkan papan tulis.

Parjo memberikan hasil penghitungan suara yang sudah dilakukan saat Eyang Sidik Wacono sibuk berurusan dengan papan tulis. Eyang Sidik lantas membacakan hasil penghitungan suara yang menempatkan Somad sebagai pemenang pilkades. Somad diminta menandatangani berita acara penetapan pemenang, sambil secara tersamar Mbah Sidik meminta bonus upaya pemenangan kepada Somad. Parjo mempertanyakan posisi Mbah Sidik yang sebagai panitia ternyata diam-diam berafiliasi kepada salah satu kontestan. Jika ketahuan orang maka niscaya akan menuai masalah. Eyang Sidik sudah siap dengan resiko itu, siapa pun yang memprotes tindakannya akan dilabraknya.